Contoh Kasus Dalam dan Luar Negri Informasi Superhighway

Contoh Kasus Dalam dan Luar Negri

Membuka “Jalan Tol” Virtual
Akses Pita Lebar l Pengguna Layanan di Asia Pasifik Capai 56 Juta

Negara-negara Asia Pasifik sepakat memperluas konektivitas pita lebar. Pembangunan infrastruktur yang merata menjadi tantangan untuk mendukung perkembangan tersebut di Tanah Air.

Hasil pertemuan para menteri telekomunikasi dan informasi negara-negara Asia Pasifik yang digelar pekan lalu menyepakati untuk memperluas konektivitas pita lebar (broadband) guna mengembangkan ekonomi berbasis teknologi tersebut. Selain itu, hasil pertemuan yang tertuang dalam Bali Statement itu juga sepakat untuk memfasilitasi layanan konvergensi yang efektif, memberi dukungan terhadap pengembangan konten dan aplikasi, serta menurunkan biaya roaming internasional.  Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan pengembangan broadband menjadi salah satu titik berat perhatiannya dalam mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia karena mampu meningkatkan daya saing dan memajukan perekonomian Negara.

Senior Director of Services GSMA, Jaikishan Rajaraman, mengungkapkan  koneksi akses tetap pita lebar dunia saat ini mencapai 1,3 miliar atau mewakili 16,4 persen populasi dunia. Sementara koneksi akses bergerak pita lebar (mobile broadband) mencapai empat miliar koneksi, atau mewakili 64 persen populasi dunia. “Pelanggan mobile broadband global tumbuh delapan juta per bulannya.”

Berdasarkan data Wireless Intelligence per kuartal ketiga 2009, Asia Pasifik merupakan pengguna mobile broadband terbesar yakni 56,2 juta pelanggan, di atas pengguna di Amerika Serikat dan Kanada yang berkisar 45,36 juta pelanggan. Pengguna mobile broadband di Indonesia sendiri diperkirakan GSMA hampir menyentuh dua juta pelanggan. Angka itu diperoleh dari operator seperti Telkomsel 1,3 juta, Indosat (IM2) 500 ribu, Excelcomindo Pratama (XL) 100 ribu, dan beberapa operator lainnya. Pengguna layanan data Internet bergerak tersebut diproyeksi bakal menembus angka 45 juta pelanggan pada 2013 mendatang.

Dia menyebutkan broadband akan berkembang dengan pesat di Indonesia jika ekosistem untuk mengembangkan teknologi ini berhasil didorong eksistensinya oleh pemerintah. Ekosistem itu mencakup ketersediaan perangkat, inovasi, serta kesiapan operator dan pelanggan.

Tumbuhnya penetrasi mobile broadband diyakini mampu merangsang pertumbuhan pendapatan bruto atau GDP di sebuah negara.  “Setiap 10 persen penetrasi broadband akan meningkatkan satu persen pertumbuhan GDP. Itu adalah kontribusi secara langsung dari investasi jaringan. Belum lagi multiplier effects dari tumbuhnya kontribusi dari penyedia konten, perangkat, dan lainnya ,” kata dia.

Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa mengungkapkan kendala yang sering kali dihadapi dalam jaringan mobile broadband di Indonesia, khususnya di Jakarta, adalah kongesti atau kemacetan jaringan.

Guna mengatasi hal ini pemerintah disarankan membangun virtual electronic superhighway alias “jalan tol” virtual. “Mengurai kemacetan konektivitas itu dari sana. Sayangnya, pengembangan akses teknologi broadband acap kali terbentur masalah infrastruktur telekomunikasi,” kata dia.

Menurut Setyanto, diperlukan keterlibatan pemerintah untuk menjadi pemimpin sekaligus pelopor untuk membangun virtual electronic superhighway.  “Ini adalah tantangan kita sebagai negara yang terbilang terlambat dalam mengadopsi broadband. Masih ada celah untuk membangun bangsa ini bersama-sama,” kata dia.

Dukungan Regulasi

Pada kesempatan lain, anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan Indonesia juga harus segera menjalankan rencana aksi sesuai kesepakatan dalam Bali Statement dengan menghadirkan regulasi dan kerangka kerja regulator yang mendorong infrastruktur broadband agar kian kompetitif dan dapat menjangkau seluruh negeri

Heru juga menyarankan perlunya dibangun lebih banyak titik Internet exchange yang lebih menyebar dan tidak hanya fokus di kawasan barat. Selain itu, perlu juga dibangun inkubator bisnis untuk mengembangkan konten lokal. Anggota Komite lainnya, Nonot Harsono, menegaskan jika ingin membangun ekonomi berbasis broadband harus ada komitmen tidak hanya dari komunitas tetapi juga pemerintah. Tidak dijadikannya infrastruktur TIK sebagai prioritas tentu membuat seretnya alokasi dana untuk pembangunan. Apalagi kalau mengandalkan swasta, maka masyarakat perdesaan tidak bisa menikmati broadband Karena orientasi swasta yang bersifat profit.

Nonot menyarankan solusi terbaik adalah pemerintah membangun infrastruktur broadband. Selanjutnya untuk pemeliharaan dan operasional diserahkan kepada swasta dengan mekanisme tender.  Secara terpisah, juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengatakan Indonesia dalam pengembangan konektivitas broadband berencana fokus pada Palapa Ring dan meningkatkan proyek universal service obligation (USO) menjadi broadband service obligation (BSO).

Palapa ring atau proyek membangun cincin serat optik di kawasan timur Indonesia dianggap sebagai pilot project Indonesia karena untuk membangunnya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

ISH di Korea
visi untuk membawa bangsa Korea ke dalam era informasi

Pemimpin negara Korea Selatan memiliki visi untuk membawa bangsa Korea ke dalam era informasi. Republik Korea Selatan mulai masuk ke dalam era digital tahun 1987 dengan dikeluarkannya National Basic Information System Plan (NBIS) untuk mengembangkan industri komputer. Pada tahun 1994 pemerintah Korea mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan Korean Information Infrastructure (KII) Policy Committee yang bertugas untuk menyiapkan infrastruktur ekonomi. Komite ini dikepalai oleh Perdana Menteri dan dijalankan oleh Mentri Perencanaan Ekonomi dengan bantuan official dari 20 kementrian. Komite ini memiliki empat fungsi khusus yaitu :

• Mengkoordinasikan kebijakan KII dan melakukan pendampingan dalam mengimplementasikan visiKII.

• Membangun master plan KII dan mengatur pendanaan implementasi.

• Melakukan evaluasi teknologi pada yang dilakukan oleh KII.

• Mereview legislasi dan regulasi yang terkait dengan masyarakat informasi.CYBER KOREA 21 (1999-2002) Menghadapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mengglobal, pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan Basic Plan for Expediting Information Age and established “Cyber Korea 21. Tujuan utama pembentukan Cyber Korea 21 adalah sebagai berikut :

• Upgrading jaringan telekomunikasi, penggunaan serat optik, cable modem, wireless local loop dan komunikasi satelit yang bertujuan untuk mempercepat layanan komunikasi bagi seluruh rakya Korea. Proyek ini menelan anggaran sampai dengan 8,67 juta dollar Amerika

• Meningkatkan literasi teknologi informasi dengan program pendidikan menggunakan komputer, dimulai dari literasi dasar sampai dengan tingkat pakar. Proyek ini bertujuan untuk menghubungkan semua sekolah di Korea ke internet.

• Membuat revisi terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual, perpajakan, enkripsi dan kerangka legal untuk mendukung e-Commerce. Proyek ini juga mencakup penggunaan hukum tandatangan elektronis yang memungkinkan terjadinya transaksi elektronis dan sirkulasi dokumen

• Pembuatan layanan elektronis umum dan kiosk pada tempat-tempat umum yang memungkinkan penduduk Korea dapat terhubung ke dalam jaringan.

• Meningkatkan intensitas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah bagi industri perangkat lunak dan multimedia content.

• Mempromosikan kolaborasi internasional dalam bentuk riset dan pengembangan teknologi informasi E-KOREA VISION 2006 Berdasarkan kedua proyek yang sudah disebutkan di atas, pemerintah Korea Selatan kemudian meluncurkan proyek tahap ketiga dalam bentuk Master-plan pada April 1992. Visi dari e-Korea 2006 adalah memfokuskan diri pada peningkatan kualitatif seperti peningkatan produktivitas melalaui reformasi legal dan institusional. Setelah tercapainya peningkatan kuantitatif penggunaan internet, pemerintah Korea menginginkan terhajadinya peningkatan kualitatif dalam bentuk inovasi proses bisnis. Untuk meningkatkan berkembangnya industri baru, pemerintah Korea memfokuskan pada upgrading infrastruktur informasi, mensponsori riset, pengembangan termasuk mengembangkan sumber daya manusia. Perencanaan tersebut juga mencakup pengembangan informasi untuk semua industri dan meningkatkan produktivitas sampai ke tingkat negara industri G7. Target tersebut direncanakan meningkat 30 persen dari seluruh total transaksi pada industri utama dan 25 persen untuk industri lainnya yang dapat bekerja secara online padatahun 2006

G4C – Single Window e-Government (www.egov.go.kr)  Pada November 2002 pemerintah Korea mengeluarkan website e-service, yang berisikan 400 layanan publik. Diantara layanan yang disediakan misalnya pengurusan pajak, aplikasi untuk menjual properti dan sebagainya. Untuk mengurangi pengisian dokumen secara berulang-ulang, sistem yang dibuat dapat berbagi informasi antar agensi pemerintahan.

Social Insurance Service Portal (www.4insure.or.kr)  Sistem ini terhubung ke empat asuransi sosial utama (unemployment, health, industrial disaster dan pension). Sistem yang terintegrasi memudahkan pengguna untuk dapat mmelakukan registrasi, mengajukan permohonan dan sebagainya melalui satu aplikasi. Pencarian informasi dan pembayaran juga dapat dilakukan secara online The Government Superhighway Network Government Superhighway Network (GSN) digunakan untuk menghubungkan tiga kompleks pemerintahan dalam radius 160 km dan mencakup hampir semua departemen dan administrasi. Beberapa kantor pemerintah kecil akan terhubung secara remote dengan menggunakan fasilitas via satelit

PC for Public Servants  Korea memiliki kurang lebih 800.000 personel yang bekerja pada layanan sipil (diluar personel militer) yang 73.000 diantaranya merupakan pekerja kantoran. Komputer personal merupakan kebutuhan utama yang digunakan oleh pekerja kantoran tersebut sampai dengan 86 persen. Semua komputer personal terhubung ke internet dan email merupakan aplikasi yang digunakan oleh pekerja kantoran sampai dengan 91 persen.

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: